2.1.a.9. Koneksi Antar Materi – Modul 2.1

      Sebagai pendidik, kita memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dengan cara terbaik yang sesuai untuk mereka. Pembelajaran berdifrensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid, dapat dikatakan bahwa berdifrensiasi berarti berbeda. Kita ketahui bahwa kemampuan anak itu berbeda oleh karena itu dalam melaksanakanpun dengan cara-cara yang berbeda pula agar kebutuhan murid terpenuhi dalam belajar secara berkelanjutan.

      Ciri-ciri dari karakteristik pembelajaran berdifrensiasi kita guru harus memciptkan lingkungan belajar untuk mengundang murid untuk belajar supaya mereka minat untuk tertarik, tujuan pembelajaran harus didefenisikan jelas,melaksanakan evaluasi terhadap siswa, menanggapi atau merespon kebutuhan murid,melaksanakan manajemen kelas secara efektif.

      Praktek pembelajaran berdifrensiasi tidak hanya dapat memaksimalkan potensi murid namun juga memberikan kesempatan pada mereka untuk mempelajari berbagai nilai-nilai kehidupan yang penting bagi murid seperti :

  1. Nilai-nilai tentang indahnya perbedaan, menghargai,
  2. Makna baru dari kesuksesan,
  3. Kkekuatan diri,
  4. Kesempatan yang setara,
  5. Kemerdekaan belajar,

      Dan berbagai nilai penting lainnya yang akan berkontribusi terhadap perkembangan diri mereka secara lebih holistik/utuh. Guna lebih memahami konsep pembelajaran berdiferensiasi, tomlinson (2000) menyatakan ada empat karakteristik utama pembelajaran berdiferensiasi yang efektif, yaitu:

  • Pembelajaran merupakan konsep dan prinsip memberilkan dorongan.
  • Penilaian berkelanjutan terhadap kesiapan dan perkembangan belajar siswa dipadukan ke dalam kurikulum.
  • Digunakannya pengelompokan secara fleksibel dan konsisten.
  • Siswa secara aktif bereksplorasi di bawah bimbingan dan arahan guru.

     Berdasarkan karakteristik pembelajaran berdiferensiasi diatas, pembelajaran literasi hendaknya dilaksanakan berdasarkan kondisi awal siswa, bukan berdasarkan apa yang harus dicapai siswa. Dalam merencanakan pembelajaran berdiferensiasi, guru harus memahami secara mendalam siswanya, baik dalam hal kesiapan belajar, minat, maupun gaya atau profil belajarnya. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan guru dalam mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi sebagai berikut:

  1. Berpusat pada siswa

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajarn yang berpusat pada siswa. Artinya, pembelajaran direncanakan dengan cermat dan strategis dengan berdasar pada upaya memahami siswa secara utuh, serta menempatkan gaya, intelegensi, kemampuan awal, dan berbagai cara belajar siswa sebagai dasar pelaksanaan pembelajaran (Gregory dan Chapman, 2002: 35).

  • Berpusat pada kurikulum

Pembelajaran berdiferensiasi tidak mengubah konsep dan tujuan kurikulum. Pembelajaran ini lebih menekankan kreativitas dalam menyelaraskan perangkat pembelajaran.

  • Diferensiasi materi pembelajaran

      Diferensiasi materi pembelajaran berarti materi pembelajaran yang diberikan tidak bersifat sama rata untuk semua siswa. Oleh sebab itu, guru harus mampu menyeleksi materi pembelajaran sesuai dengan minat, pengetahuan awal, dan gaya belajar siswa. Untuk mendiferensiasi proses/aktivitas pembelajaran, guru dapat melihat cara-cara alternatif dan bermakna untuk menyediakan pijakan belajar bagi siswa. Oleh sebab itu, cara-cara dibawah ini dapat digunakan guru untuk mendiferensiasi pendekatan pembelajaran

  1. Mengembangkan tugas dalam beberapa tingkat kesukaran, tetapi tetap memiliki satu tujuan yang sama.
  2. Mengelompokan siswa dengan berbagai cara.
  3. Menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi.
  4. Menciptakan siswa ahli di dalam kelas.
  5. Menggunakan banyak tugas untuk beberapa siswa dan membiarkan proses belajar tetap terbuka untuk beberapa siswa lain.
  6. Mengizinkan siswa untuk menciptakan tugasnya sendiri.
  7. Menggunakan berbagai cara yang dapat digunakan siswa untuk mendemonstrasikan aktivitas belajarnya.
  8. Menciptakan tugas yang kaya dan sifatnya berlapis.

     Guru pada saat membuat perencanaan, pelaksaanan, assessment, dan rencana tindak lanjut dalam pembelajaran berdiferensiasi. Dibutuhkan pendidik yang terampil dan berkompeten sehingga mampu berkontribusi secara aktif untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid atau pembelajaran yang selalu mempertimbangkan kebutuhan belajar peserta itu semua terjawab dengan pembelajaran berdiferensiasi. Kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek, yaitu:

1. Kesiapan Belajar

     Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.

    Ada banyak cara untuk membedakan kesiapan belajar. Tomlinson (2001) mengatakan bahwa merancang pembelajaran berdiferensiasi mirip dengan menggunakan tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. Saat Anda mengajar, menyesuaikan “tombol” dengan tepat untuk berbagai kebutuhan murid akan menyamakan peluang mereka untuk mendapatkan materi, jenis kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang tepat di kelas Anda.

2. Minat Murid

     Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran. Tomlinson (2001) menjelaskan bahwa mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan diantaranya:

  • Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar;
  • Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran;
  • Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan;
  • Meningkatkan motivasi murid untuk belajar

3. Profil Belajar Murid

     Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll. Menurut Tomlinson (2001), ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran seseorang. Berikut ini adalah beberapa yang harus diperhatikan:

  • Lingkungan: suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.
  • Pengaruh Budaya: santai – terstruktur, pendiam – ekspresif, personal – impersonal.
  • Visual: belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik organisator).
  • Auditori: belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik).
  • Kinestetik: belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb).
  • Berdasarkan pemaparan mengenai ketiga aspek dalam mengkategorikan kebutuhan belajar murid, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari pembelajaran murid diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Selain itu dalam melakukan pembelajaran berdiferensiasi kita juga perlu melakukan strategi dalam pembelajaran.
  • Strategi adalah sebuah cara dalam memberikan informasi baru untuk semua murid dalam komunitas yang beragam termasuk cara untuk mendapatkan konten, mengolah, membangun, atau menalar gagasan, dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran penilaian sehingga semua siswa di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif

Menurut Tomlinson (2001) strategi pembelajaran berdiferensiasi dibagi menjadi tiga, yaitu:

  • Diferensiasi Konten

     Konten Adalah  apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita. Konten berkaitan dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada murid dengan cara kita memodifikasi dan memilih cara yang tepat kepada murid berdasarkan kebutuhan murid. Namun dengan tetap memperhatikan berdasarkan kesiapan belajar murid, minat murid, dan profil belajar murid.

  • Diferensiasi Proses

     Proses yaitu mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai informasi atau materi yang dipelajari. Proses yang perlu dipersiapkan agar murid belajar sesuai dengan kebutuhannya yaitu dengan proses kegiatan yang berjenjang, tantangan berbeda, pertanyaan pemandu, membuat agenda individual, variasi lama waktu, kegiatan bervariasi dan pengelompokkan yang fleksibel.

  • Diferensiasi Produk

     Produk yaitu tagihan apa yang diharapkan dari murid. Pemahaman murid harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, yang meliputi dua hal yaitu memberikan tantangan dan variasi dan memberikan murid pilihan untuk mendemonstrasikan pelajaran yang diinginkan.

      Pada proses pembelajaran ini kita menekankan pada kebutuhan individu, mengapa demikian? Ya, karena kita tahu bahwa setiap anak itu unik, mereka punya ciri khas masing-masing. Setiap anak terlahir dengan kodrat alam dan zamannya, guru hanya bisa menuntun lakunya bukan kodratnya. Oleh karena itu sebagai guru kita harus memperhatikan kebutuhan belajar setiap murid yang berbeda. Namun demikian, bukan berarti kita mengajar dengan berbagai cara yang berbeda dalam suatu waktu. Pembelajaran berdiferensiasi harus berpedoman pada kebutuhan belajar individu dengan terlebih dulu melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan minat, kesiapan, dan profil belajar murid di dalam kelas.

       Menurut Ki Hajar Dewantara ,guru diibaratkan seorang petani dan murid adalah benih-benihnya, tentu saja benih yang tumbuh itu berbeda-bedadalam perkembangannya dan juga berbeda-beda jenisnya. Jika dikaitakan dengan Modul 1 sebelumnya sesuai dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa seorang pendidik itu dituntut untuk menuntun murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman, sebagai guru tidak boleh memaksakan kehendak kepada murid.

     Guru penggerak yang dukung dengan nilai Mandiri,Reflektif, Kolaboratif dan inovatif berusaha selalu menjalankan perannya dalam mendukung “ Merdeka Belajar “ guru harus terbiasa jeli dalam melihat keberagaman kebutuhan murid dalam belajar , ada yang lambat, sedang, dan cepat. ada yang suka olah raga, agama, seni, sains dan sebagainya. Ada juga yang suka belajar dengan cepat melalui penglihatan,pendengaran, atau kinestetik. Semua keberagaman itu harus diakomodir dalam proses pembelajaran. Dengan pembelajaran berdifrensiasi inilah proses pembelajaran yang tepat untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap individu murid.

Referensi :

Tomlinson, 2001. How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom

Tinggalkan Balasan