IASP 2020, Instrumen Penilaian Akreditasi Satuan Pendidikan

Arah baru penilaian akreditasi sekolah melalui Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan (IASP) tahun 2020, menghadirkan tantangan yang tidak mudah bagi Asesor. Jika selama ini Asesor dihadapkan pada isu masalah Integritas, maka dengan IASP 2020 tantangan asesor itu bertambah yakni harus memiliki kompetensi yang memadai dalam melakukan penilaian terhadap kinerja sekolah yang tidak lagi berbasis dokumen/administrasi. Asesor diharapkan mampu menggali data dan informasi secara benar, objektif, dan terukur sesuai dengan tujuan yang diharapkan dari setiap butir instrumen tersebut.

Gambar di samping contoh instrumen komponen Mutu Lulusan yang difokuskan pada deskripsi pencapaian performa dan terlihat berbeda dengan instrumen tahun 2019. Rumusan pernyataan pada gambar di samping, “siswa menunjukkan sikap disiplin dalam berbagai situasi” yang diukur dalam 4 level. Dilengkapi juga dengan petunjuk teknis pengisian instrumen dan pembuktian kinerja.

Pada bagian akhir setiap nomor setiap komponen terdapat deskripsi pada bagian kesimpulan yang perlu disusun oleh Asesor.  Setelah dideskripsikan, baru asesor dapat memberikan penilaian berbentuk level 1 sampai dengan 4 sesuai deskripsi.

BAN S/M telah menentukan arah baru dalam pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah dengan melakukan perubahan paradigma penilaian yang semula menggunakan paradigma penilaian akeditasi berdasarkan administrasi (compliance) menuju paradigma penilaian berdasarkan kinerja (performance) melalui instrumen baru yang disebut Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan (IASP) 2020. IASP 2020 menitikberatkan pada mutu lulusan, proses pembelajaran, mutu guru, dan manajemen sekolah/madrasah. Perubahan ini sejalan dengan kebijakan Mendikbud yang menitikberatkan pada substansi mutu pendidikan melalui kebijakan Merdeka Belajar.

Implementasi IASP 2020 telah mengalami proses perancangan yang panjang. IASP disusun melalui berbagai kajian mutu pendidikan baik nasional maupun internasional dengan melibatkan banyak pakar  dan paraktisi beragam latar belakang, termasuk melibatkan tim dari Technical Assistence for Education System Strengthaning (TASS) Australia. Proses ujicoba IASP 2020 telah dilakukan di 4 Provinsi (Jawa Barat, Sumatera Barat, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan dan disosialisasikan pada forum Pelatih Asesor.

Melalui penerapan IASP 2020, BAN S/M mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi (TI) untuk sistem penilaian akreditasi secara daring, penguatan asesor melalui Uji Kompetensi dan e-training. Uji Kompetensi Asesor sampai tulisan ini dibuat, baru sampai tahapan Pra Seleksi dan pendaftaran mengikuti Uji Kompetensi yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2020. Setelah diperoleh Asesor yang lulus uji kompetensi, akan diselenggarakan e-training yang akan menghasilkan asesor yang lulus dengan predikat Asesor IASP. Teknologi tidak akan dapat menggantikan KEDUDUKAN ASESOR, namun asesor yang tidak dapat menggunakan teknologi, bersiaplah untuk DIGANTIKAN. Semoga para Asesor yang akan mengikuti uji Kompetensi seluruhnya lulus dengan memuaskan.

4 tanggapan pada “IASP 2020, Instrumen Penilaian Akreditasi Satuan Pendidikan”

  1. Mohon maaf asesor yang tidak lulus UKA mestinya tetap difasilitasi, karena mereka telah banyak memberi kontribusi dalam melaksanakan kegiatan2 BANSM juga velum pernah melakukan pelanggaran, agar para asesor yang tdk lulus UKA sekaligus pengawas lebih bersemangat dalam mengembangkan sekolah binaannya, kerjasama yang saling menguntungkan, mksh

    1. Memberikan fasilitasi bagi asesor yang tidak lulus UKA adalah soal lain, berbeda dari tujuan tes itu sendiri. Pada informasi awal, disebutkan akan dilaksanakan uji kompetensi asesor dengan tujuan memperoleh asesor yang mampu lulus dari Tes tersebut (hanya berdasarkan tes) tanpa mempertimbangkan hal-hal di luar tes tsb misalnya kontribusi dan lain-lain.

  2. Sebenarnya saya sangat prihatin karena lebih dari 60% teman2 asesor gagal lolos seleksi UKA, padahal pada saat rekrutmen awal mereka dinyatakan layak oleh BAN SM dan sertifikat asesor mereka masih berlaku hingga beberapa tahun kedepan dan beberapa tahun terakhir juga melaksanakan visitasi dengan baik. Tetatpi ketentuan yang diberlakukan pada UKA demikian, semoga saja UKA yang diselenggarakan untuk menyeleksi asesor yang akan dilatih untuk mengaplikasikan IASP 2020 perdana hanya karena keterbatasan anggaran dikarenakan pandemi kovid 19, sehingga teman2 yang sementara ini dinyatakan belum lolos UKA masih dapat berharap untuk mengikuti UKA tahap berikutnya.
    Tenang saja teman-teman…saya yakin BAN SM tidak sekejam itu menyianyiakan asesor yang masih punya hak karena sertifikat nya masih berlaku.

Tinggalkan Balasan