Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara


Setelah rekan-rekan guru melihat video tersebut, kira-kira apa yang terlintas di benak teman-teman? Jika pertanyaan ini ditujukan ke saya, maka satu kata yang akan saya ucapkan yaitu kata BERSYUKUR.

Setelah saya selesai menyaksikan video di atas, saya tersadar bahwa dunia pendidikan saat ini terbuka untuk semua, tidak ada batasan, tidak ada larangan bahkan pendidikan “Gratis” pun bisa dirasakan oleh semua anak. Bantuan pemerintah untuk menunjang pendidikan bisa dirasakan khususnya untuk masayarakat menengah kebawah, sehingga tidak ada alasan lagi karena biaya sekolah yang tidak terjangkau, sebab saat ini yang menjadi kendala adalah minat dari siswa itu sendiri, serta dukungan dari lingkungan sekitar.

Di dalam video tersebut, ada beberapa hal menarik yang patut kita sorot. Salah satunya adalah susunan meja dan kursi siswa pada masa kolonial. Hingga saat ini, susunan meja seperti itu masih bisa kita temui di hampir semua sekolah dipelosok negeri. Apakah ini berarti bahwa sistem pendidikan di Indonesia belum mengalami perubahan seutuhnya? Susunan tersebut dirancang agar siswa fokus terhadap guru, dengan kata lain guru dijadikan satu-satunya sumber informasi dalam kegiatan pembelajaran.

Kemudian, muncul pertanyaan selanjutnya. Apakah pembelajaran yang berpusat pada guru merupakan hal yang kurang baik? maka jawabannya tentu saja. Sebab pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa. Kita sebagai guru, terutama guru SMA, mempunyai suatu kewajiban yaitu mempersiapkan siswa untuk bisa menjalani kehidupannya selepas dunia sekolah. Kemampuan yang harus siswa miliki adalah kemampuan yang bisa membuatnya bisa bertahan hidup di masyarakat. Oleh karena itu, kemampuan yang seharusnya ditingkatkan bukanlah berpusat pada guru saja, tetapi juga siswa. Maka memang seharusnya Siswalah yang menjadi pusat utama dalam Belajar, dan Guru mempunyai peranan sebagai inspirator, motivator dan penuntun.

Saya menyadari, selama ini saya terlena dengan pemikiran atau sistem pendidikan dari luar negeri. Mungkin rekan-rekan guru lebih familiar dengan Taxonomy Bloom dan Andersoon dalam menyusun rencana pembelajaran. Tapi apakah rekan-rekan pernah mendengar cipta, rasa dan karsa dari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara?. Lalu, apakah rekan-rekan guru tahu, bahwa selain TUT WURI HANDAYANI masih ada dua filosofi pendidikan sehingga disebut dengan Trilogi Pendidikan KHD. Jika pun tahu, apakah rekan-rekan guru telah paham dengan makna dan tujuannya?.

Baiklah, saya akan memaparkan apa yang dimaksud dengan Trilogi Pendidikan KHD. Seperti namanya, Filosofi pendidikan KHD terdiri dari tiga hal, yaitu:

1. Ing Ngarso Sung Tulodo
2. Ing Madyo Mangun Karso
3. Tut Wuri Handayani


Trilogi pertama, Ing Ngarso Sung tulodo. Kalimat ini memiliki makna bahwa Guru mempunyai kewajiban untuk memberikan teladan. Teladan disini lebih menjadi suatu sosok yang memberikan contoh yang baik dalam berkata dan berperilaku. Oleh karena itu, sebagai seorang guru yang akan menjadi contoh, sebaiknya harus mampu menahan egonya. Karena profesi guru menempel selama 24 jam sehari. Sehingga dalam mengerjakan segala sesuatu, guru harus mawas diri atau tau diri. Sebab jika guru melakukan hal yang negatif maka siswa akan mengikutinya, karena dari artinya saja, guru itu digugu dan ditiru.

Trilogi yang kedua, Ing Madya mangun Karso. Kalimat ini memiliki makna bahwa sebagai seorang guru, kita harus bisa menuntun dan menyemangati siswa untuk terus berprestasi. Prestasi itu tidak hanya berupa piala yang diperoleh dengan mengikuti suatu perlombaan. Prestasi juga bisa diperoleh dengan menghasilkan suatu karya yang bermanfaat bagi orang banyak.

Dan trilogi terakhir adalah Tut Wuri Handayani, disini guru memiliki makna bahwa guru sebaiknya memberikan dorongan yang nantinya bisa menciptakan motivasi siswa, menuntun mereka dalam membuat keputusan dan menguatkannya. Guru selalu berupaya untuk memberi nasehat dari sudut pandang yang berbeda sehingga siswa terbuka wawasan dan pemikirannya dan untuk mendukung hal ini, guru harus terus meningkatkan kemampuan komunikasinya, maka tidak heran bahwa untuk menjadi seorang guru itu berarti kita akan belajar sepanjang hayat.

Saat ini saya menjadi salah satu peserta CGP yang diharuskan untuk mengikuti pendidikan guru penggerak. Materi pokok dalam pendidikan ini adalah filosofis pendidikan yang dipelopori dari hasil pemikiran Bapak Soewardi Soerjaningrat yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Jalan hidupnya yang menentang kolonial pada saat itu, membuatnya di asingkan ke negeri Belanda, dan dari sanalah dia mengamati sistem pendidikan dengan lebih mendalam dan terlahirlah Taman Siswa.

Oleh karena itu, kita sebagai guru Indonesia harus memahami sistem pendidikan Indonesia serta bangga untuk menerapkannya, karena sistem pendidikan ini lebih mengarah kebudayaan Lokal. Akhir kata disini saya bukan untuk menggurui akan tetapi saya ingin berbagi pikiran dengan rekan sejawat tentang sistem pendidikan di Indonesia. Semoga tulisan ini menjadi refleksi bagi kita sebagai guru.

Guru Bergerak Indonesia Maju

#Merdeka Belajar
#refleksi
#PGP
#artikel modul 1.1 PGP
#CGP2
#CGPBandarlampung

Tinggalkan Balasan