Ingin Bukti Sekolah Hebat?, Lakukanlah Tracer Study

Prakata: Perguruan Tinggi memang berkewajiban melaksanakan kegiatan rekam jejak alumni (tracer studi) secara ilmiah dikarenakan telah diatur dalam peraturan menteri. Bagi sekolah-sekolah menengah dan jenjang di bawahnya, jarang sekali ada sekolah yang melaksanakan tracer studi, hanya  terbatas pada sekolah tertentu yang memang memerlukan rekam jejak melalui penelitian tentang alumninya. Ketika akreditasi sekolah/madrasah pada butir nomor 11 pada IASP, ada kinerja tracer studi berbentuk survey kepuasan pemangku kepentingan, wajar apabila pihak sekolah mencari referensi (contoh) laporan survey kepuasan pemangku kepentingan. Pada era digital ini, contoh laporan begitu bertebaran, mudah diperoleh melalui browsing tinggal menyesuaikan nama dan alamat sekolah. Walaupun laporan survey kepuasan mudah diperoleh, namun kita wajib memahami apa itu tracer studi. Oleh karena itu, tulisan singkat  ini dibuat untuk memberikan pemahaman tentang tracer study.

Apa itu Tracer Study?: Tracer Study atau yang umumnya dikenal dengan studi rekam jejak atau survei alumni, adalah studi mengenai lulusan lembaga penyelenggara pendidikan tinggi (Syafiq dan Fikawati, 2016). Tracer study merupakan suatu studi yang dapat menyediakan informasi yang bermanfaat bagi kepentingan evaluasi hasil pendidikan tinggi dan selanjutnya dapat digunakan untuk penyempurnaan dan penjaminan kualitas lembaga pendidikan tinggi. Apabila pengertian ini untuk sekolah menengah atau di bawahnya, maka kata perguruan tinggi dapat diganti dengan istilah sekolah.

Tracer study, yang diteliti pada siklus input-output adalah output dan outcome lulusan. Output merujuk pada pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sedangkan outcome adalah kebermanfaatan lulusan di sekolah tingkat lanjut ataupun di dunia kerja. Sejauh mana keberhasilan dan kebermanfaatan lulusan merupakan hasil rekam jejak alumni yang akan menjadi salah satu pertimbangan pengembangan sekolah. Tracer study dapat digunakan untuk mengetahui hubungan antara input sekolah (situasi dan kondisi pembelajaran, biodata siswa, pengalaman dan motivasi), proses pendidikan tinggi (pembelajaran dan pengajaran), output pendidikan tinggi (pengetahuan, keterampilan, motivasi dan nilai), serta outcome pendidikan sekolah (masa peralihan memasuki dunia kerja dan kontribusi terhadap masyarakat).

Menurut Report Tracer Study ITB (2014), idealnya pelaksanaan tracer study dilakukan 2 (dua) kali. Tracer study yang pertama dilakukan kepada alumni sseolah pada 1-2 tahun semenjak kelulusan. Kondisi ini dianggap ideal karena 1-2 tahun setelah lulus, alumni dianggap sudah memiliki pengalaman dan kompetensi dalam pekerjaan serta pengetahuan akan dunia kerja. Pengalaman dan kompetensi di dunia kerja inilah yang kemudian akan menjadi umpan balik alumni bagi perguruan tinggi terkait hubungan pendidikan tinggi dengan pekerjaan. Tracer study yang kedua dapat dilakukan kembali kepada alumni pada 4-5 tahun setelah kelulusan (atau 3 tahun setelah tracer study pertama).

Tujuan Tracer Study: mengevaluasi relevansi, pengembangan kurikulum, perangkat akreditasi, penyampaian informasi kepada guru, orang tua bahkan siswa sendiri. Tracer Study merupakan suatu penelitian yang mencermati peralihan (transisi) dari dunia pendidikan tinggi ke dunia kerja. Menurut Syafiq dan Fikawati (2016), tujuan dilaksanakannya suatu tracer study umumnya berkaitan dengan (1) Informasi mengenai relevansi; (2) Informasi mengenai evaluasi pendidikan.(3) Informasi akuntabilitas bagi orang tua dan pemangku kepentingan lainnya. (4) Memenuhi persyaratan akreditasi. (5) Informasi mengenai situasi transisi dan dinamika kerja.

Tinggalkan Balasan