KEPENGAWASAN MODEL “GOTONG ROYONG” MELALUI ALUR STAR UNTUK MENGATASI LEARNING LOSS

Pendahuluan

Kepengawasan akademik dan manajerial menurut program tahunan pengawas tahun 2020 yang berbasis tatap muka telah disusun dan dilaksanakan sampai bulan Maret 2020. Setelah itu sekolah melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sampai awal tahun Pelajaran 2021/2022, dikarenakan adanya kebijakan PJJ oleh pemerintah akibat Pandemi Covid-19 yang masih merebak. Tentu saja membawa akibat perubahan program dan pelaksanaan kepengawasan yang disesuaikan dengan situasi yang selalu berubah serta kondisi pembelajaran sekolah yang dilaksanakan dari rumah.

Langkah awal untuk menyesuaikan model kepengawasan dengan situasi, dilaksanakan penggalian data melalui kegiatan monitoring dan evaluasi pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan oleh sekolah dengan instrumen berbentuk google docs. Data yang terkumpul dianalisis kemudian dirangkum menghasilkan data diagnostik pembelajaran jarak jauh sebagai berikut: (1) sebagian besar guru melaksanakan PJJ melalui pemberiaan tugas menggunakan satu media yaitu WA Grup, (2) sebagian besar guru masih menggunakan program pembelajaran yang berbasis tatap muka, (3) sebagian besar guru belum menguasai teknologi informasi seperti pemanfaatan aplikasi google seperti drive, G meet, jamboard untuk pembelajaran jarak jauh; dan (4) sebagian besar guru baru memanfaatkan sumber belajar yang terbatas pada buku teks dan modul belum dikombinasikan dengan sumber belajar daring.

Perencanaan Kepengawasan untuk mengatasi Learning Loss

Berdasarkan analisis diagnostik menunjukkan bahwa guru perlu didampingi dan dibimbing dalam kepengawasan akademik yang berfokus pada pengelolaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar dapat mengecilkan pengaruh situasi yang mengakibatkan Learning Loss dengan memanfaatkan aneka sumber belajar melalui penguasaan teknologi informasi. Oleh karena itu pelaksanaan kepengawasan pendidikan ditujukan pada pertanyaan “bagaimana model kepengawasan pendidikan yang dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang memanfaatkan aneka sumber belajar dan kemajuan teknologi informasi?”

Berdasarkan hasil analisis, diskusi dengan teman sejawat, dan referensi yang mendukung maka model yang akan diterapkan dalam supervisi akademik adalah  Model Kepengawasan Pendidikan Model Cooperative Profesional Development (CPD) yang diadaptasi dan selanjutnya disebut Kepengawasan Gotong Royong, yaitu sebuah model kepengawasan yang difasilitasi oleh pengawas sekolah melalui proses yang diformulasikan secara moderat oleh dua orang guru atau lebih yang setuju bekerjasama untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan profesionalnya (Glatthorm, 1987:134).

Model kepengawasan disebut model gotong royong dikarenakan memberikan dampak pengiring meningkatnya sikap kerjasama antar guru, sehingga gotong royong sebagai nilai luhur bangsa Indonesia tetap terpelihara (Masaong, 2013:44). Model gotong royong memungkinkan guru-guru melakukan kegiatan saling berdiskusi merancang pembelajaran, berbagi keterampilan, mengadakan observasi kelas, saling memberikan umpan balik, dan menguasai tentang masalah-masalah media pembelajaran. Fasilitasi dalam model gotong royong yang diberikan pengawas mengikuti alur STAR yang diadaptasi dari model interview, yaitu dimulai dari situasi, tugas, tindakan, dan hasil. Secara ringkas Model Kepengawasan Gotong Royong dengan alur  STAR dapat digambarkan seperti ini.

Pelaksanaan Kepengawasan untuk mengatasi Learning Loss

Situation:

Pada akhir tahun pelajaran 2020/2021, Kementrian merencanakan pelaksanaan pembelajaran Tatap Muka secara terbatas dan dengan antusias guru-guru menyambut dengan semangat melalui rancangan pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran daring dan luring. Guru-guru binaan memberikan masukan melalui instrumen monev untuk merancang pembelajaran dengan pendekatan Blended Learning.

Task:

Pengawas memfasilitasi persiapan penerapan pembelaaran Tatap Muka secara terbatas dengan memfokuskan pada pertanyaan: “bagaimana membantu guru-guru agar mampu merancang pembelajaran dengan pendekatan blended learning?”

Action:

  1. Berkolaborasi dengan Kepala Sekolah dan Guru untuk mengikuti pembinaan daring melalui learning management sistem (lms): e-Belajar Mandiri yang dikembangkan sendiri oleh pengawas
  2. Guru dan Kepala sekolah diminta untuk mempelajari video yang dikembangkan oleh pengawas dalam playlist Pembelajaran Masa Pandemi

    dan Tutorial Guru

    Dari channel youtube Guru Ceria milik pengawas (Aan Sururi)

  3. Melaksanakan zoom meeting berdiskusi tentang pendekatan Blended Learning
  4. Guru-guru diminta untuk berdiskusi dalam lms dan mengunggah perancangan pembelajaran tatap muka terbatas.

Result:

Setelah melalui diskusi dalam lms, guru-guru memiliki rancangan pembelajaran dengan pendekatan blended learning yang berisi indikator mana yang akan disampaikan melalui WA, video, tugas dan indikator yang harus disampaikan secara langsung melalui tatap muka terbatas atau zoom meeting

Evaluasi Pelaksanaan Kepengawasan untuk mengatasi Learning Loss

Evaluasi pelaksanaan kepengawasan dilaksanakan melalui instrumen refleksi kepada 68 orang guru tentang pelaksanaan PTMT dalam bentuk Google form yang hasilnya sebagai berikut: (Secara lengkap dapat dilihat di link

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1VATKKVCPCAXBv4I4wtBJPJYzUv_PqxLFyZPNsV2GzAc/edit?usp=sharing

)

  1. 53 (78% dari 68) orang guru menyatakan menerapkan pendekatan blended learning agar ketercapaian belajar murid menjadi maksimal. Sedangkan 22% lainnya menyatakan tidak menerapan blended learning dikarenakan cukup melakukan PTMT
  2. Seluruh guru menyatakan sedikit puas tentang PTMT walaupun dibantu dengan rancangan kombinasi daring dan luring dikarenakan ketersediaan alat komunikasi murid

Tindak Lanjut Kepengawasan untuk mengatasi Learning Loss

Salah satu guru menulis: “akibat kurangnya interaksi langsung antara guru dan siswa, otomatis berkuranglah internalisasi nilai-nilai karakter yang semestinya harus ditanamkan seorang guru ke dalam diri siswa. Ini akan mengakibatkan degradasi moral pada anak atau siswa, karena tugas seorang guru bukan hanya mengajar, mentrasferkan ilmu pengetahuan (pelajaran) saja, tetapi seorang guru juga dituntut untuk mendidik (pembentukan akhlak dan karakter) siswa. Namun, hal ini tidak boleh mematahkan semagat guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, tidak boleh mematahkan semagat siswa dalam belajar, pandemi covid ini tidak boleh mematahkan semangat dan harapan kita semua” maka tindak lanjut kepengawasan ini adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan pembinaan guru mengenai penguasaan IT secara intensif agar e-pembinaan semakin efektif;
  2. Memantapkan pemahaman guru mengenai konsep profil pelajar Pancasila melalui e-pembinaan (e-Belajar Mandiri). Terkait dengan integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran dengan pendekatan blended learning dengan membuka pembinaan baru pada lms e-Belajar Mandiri

Daftar Rujukan:

  1. Glatthorm, J.A et.al. 1987. Supervision Education. Arizona: Publishir
  2. Masaong, J.A. 2013. Penguatan Kapasitas Pengawas Pendidikan. Jakarta: Alfabeta
  3. e_pembinaan: https://lms.guruceria.com
  4. Web Guru Ceria: https://guruceria.com/
  5. Channel youtube: https://www.youtube.com/channel/UCKajW4xUNW709Xl1T5MHzzA

Tinggalkan Balasan