(Ulasan Singkat Buku BSNP 2020: Mau dibawa Kemana?) Arah Kompetensi Generasi Indonesia Menuju Tahun 2045

Mendapat kiriman Buku BSNP dengan Judul “Arah Kompetensi Generasi Indonesia Menuju Tahun 2045”, membuat saya tertarik untuk membaca secara seksama dan penasaran ada hal penting apa sehingga perlu diterbitkan Buku ini. Apa ada bagian yang terlewatkan dari bahasan BSNP? Ulasan sederhana dari buku ini dipaparkan secara singkat dalam tulisan ini. Apabila pembaca tertarik juga dengan Buku ini, bisa diunduh dari link yang diberikan pada akhir tulisan.

Buku ini terdiri dari tujuh bab. Pada bagian pendahuluan (Bab I), diuraikan latar belakang, tujuan, signifikansi, landasan, pengertian, ruang lingkup, dan cakupan arah kompetensi generasi Indonesia menuju 2045. Pada Bab II diuraikan tantangan 2045 yang dianalisis dalam berbagai aspek dan kondisi saat ini. Selanjutnya Bab III menguraikan arah kompetensi generasi Indonesia menuju 2045. Kemudian pada Bab IV menguraikan strategi transformasi pendidikan, yang dilanjutkan dengan rekomendasi pada Bab V. Akhirnya, Bab VI merupakan penutup dari buku. Keseluruhan isi buku ini memberikan gambaran secara terintegrasi mengenai arah pendidikan generasi Indonesia menuju 2045. 

Sebagai seorang Guru ada baiknya membaca buku ini, agar memperoleh pencerahan mau dibawa kemana pendidikan Indonesia menuju tahun 2045. Pada hakekatnya, seorang guru wajib menyiapkan generasi yang akan hidup di masa mendatang. Apabila pada hari ini (2021) lahir seorang anak Indonesia maka 24 tahun kemudian (2045) mereka harus hidup di masa yang berbeda tantangan dan permasalahan hidup dengan tahun 2021. Sayangnya, permasalahan yang mendesak justeru kompetensi Guru yang rendah (halaman 49) sebagaimana kutipan berikut: “Permasalahan pendidikan saat ini yang sangat mendesak adalah kompetensi guru. Menurut Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, dinyatakan bahwa terdapat empat kompetensi utama yang secara utuh dikembangkan sebagai standar kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Berdasarkan nilai rata-rata hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2019 menunjukkan rata-rata tertinggi yang dicapai guru jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK secara berurutan adalah 54,8; 58,6; 62,3; dan 58,4. Masih rendahnya kompetensi guru dapat berdampak terhadap rendahnya kualitas pembelajaran dan pembentukan karakter bangsa (Badan Pusat Statistik, 2019b)”.

Pembahasan yang komprehensif mengenai berbagai aspek (Bab II) memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa pendidikan tidak berdiri sendiri, namun terkait erat dengan berbagai aspek misalnya kondisi demografi, politik, sosial, budaya dan teknologi. Sebagaimana didengungkan, bahwa Indonesia akan memperoleh bonus demografi namun dalam buku ini ditulis pada halaman 52: “…maka fenomena bonus demografi yang akan dialami Indonesia dapat berdampak positif dengan menuai dividen demografi atau sebaliknya, negatif, dengan menuai bencana demografi. Dampak positifnya, Indonesia menjadi negara maju dengan kemampuan ekonomi yang meningkat, ditunjang rendahnya tingkat pengangguran, serta meningkatnya keterlibatan penduduk usia produktif yang kreatif dan inovatif dalam pembangunan. Bonus demografi ini juga dapat menciptakan peluang positif yang dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan meningkatkan kualitas hidup manusia serta mempercepat pembangunan nasional, jika tenaga kerja yang besar tersebut memiliki kualitas dan produktivitas yang tinggi. Tantangan Revolusi Industri dan berkembangnya kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan memiliki pengaruh terhadap perubahan sistem dari tenaga manusia menjadi tenaga mesin/robot sehingga akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi perekonomian Indonesia.”

Pada Bab III, dibahas arah kompetensi berdasarkan pandangan Ki Hajar Dewantara yang secara eksplisit menyatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah membangun kesempurnaan hidup manusia, yang mencakup hidup batin dan hidup lahir (“manusia seutuhnya”). Dengan perkataan lain, menurutnya pendidikan bertujuan membangun kecakapan (“kompetensi”) hidup batin dan hidup lahir. Kecakapan hidup batin akan melahirkan apa yang disebutnya sebagai kecakapan kehidupan (ke dalam dia akan melahirkan harmoni antara pikiran, rasa, dan kemauan, sementara keluar dia akan melahirkan harmoni atau keselarasan kehidupan bersama orang lain). Kecakapan hidup lahir, menurutnya akan melahirkan kecakapan penghidupan, yang menyangkut kecakapan pemenuhan kebutuhan fisik-materi-ragawi manusia. Dengan demikian, menurut Dewantara “hidup, perikehidupan bersama, dan penghidupan” merupakan tujuan utama sekaligus buah dari pendidikan.

Arah kompetensi meliputi dua kompetensi yaitu kompetensi dasar dan kompetensi holistik yang terkait dengan hidup dan prikehidupan. Arah kompetensi ini akan menimbulkan fokus tujuan pendidikan yang akan dicapai melalui strategi transformasi pendidikan. Strategi yang masuk akibat adanya pandemi Covid-19 adalah strategi pendidikan Jarak Jauh dan pendidikan khusus (Bab IV, halaman 72). Strategi yang terkait pendidikan guru oleh pendidikan tinggi berperanan dalam menghasilkan guru merupakan komponen krusial. Pendidikan guru perlu melakukan transformasi dalam pelaksanaan pendidikan guru. Pendidikan Tinggi perlu memperhatikan perubahan pendidikan masa depan terkait dengan perubahan terhadap kebutuhan belajar peserta didik, profil peserta didik, internet teknologi, digitalisasi, dan automation, penggunaan mobile phones, pola hidup baru, big data, artificial intelligence, dan disrupsi berdampak terhadap sistem pendidikan guru (halaman 145). Pada halaman berikutnya (h 148), diungkapkan dalam buku ini bahwa ke depan sekolah dapat berupa sekolah virtual namun kemampuan guru dalam pengelolaan kelas tetap perlu diperhatikan. Pembelajaran dalam pendidikan guru diharapkan memberikan pengalaman belajar terkait dengan pembelajaran otentik. Calon guru memiliki pengalaman mengintegrasikan kompetensinya secara holistik dalam kegiatan praktik pengalaman mengajar di sekolah. Sekalipun sekolah masa depan yang dapat berubah menjadi sekolah virtual, namun guru harus dapat menguasai keterampilan pengelolaan kelas dan interaksi dengan peserta didik.

Selanjutnya Buku ini, memuat rekomendasi dan kesimpulan. Rekomendasi penyelenggaraan pendidikan nasional terkait dengan otonomi daerah yang dinamis diungkapkan dalam dua kata kunci yaitu (h 150) tata kelola pendidikan harus mengedepankan kolaborasi yang sinergis antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dengan memperhatikan proporsi kewenangan masing-masing. Pada paragraf selanjutnya, ditekankan bahwa penyelenggaraan pendidikan di daerah harus terhindar dari konflik kepentingan (conflict of interest) sebagai ekses “politisasi pendidikan” pasca-pemilihan kepala daerah (pemilukada) langsung baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota). Karenanya selain harus ada kebijakan politik yang terperinci mencegah “politisasi pendidikan” juga diperlukan mentalitas demokratis masyarakat yang kuat dalam menjaga proses pemilukada berjalan secara demokratis tanpa adanya motif dan praktik politik pragmatisme-transaksional.

Pada penutup ditekankan kembali bahwa (h 164) Arah kompetensi yang dibutuhkan bagi generasi Indonesia menuju 2045 mencakup kompetensi dasar dan kompetensi holistik terintegrasi. Arah kompetensi dirumuskan sebagai orientasi dan arah kompetensi pada kompetensi dasar serta kompetensi terintegrasi. Kompetensi Dasar yang terdiri dari kompetensi keberagamaan, Kompetensi kewarganegaraan (citizenship competence), kompetensi keilmuan, teknologi, dan seni (IPTEKS), kompetensi digital, serta kompetensi belajar untuk belajar. sedangkan kompetensi holistik terintegrasi terdiri dari kompetensi untuk hidup (biologis), kompetensi untuk kehidupan (sosial, budaya, dan alam), dan kompetensi untuk penghidupan (ekonomi). Sedangkan rekomendasi (h 165) dikembangkan berdasarkan isu-isu penting dalam mencapai arah kompetensi generasi Indonesia menuju 2045. Beberapa rekomendasi yang dianalisis terkait tata kelola, pembiayaan pendidikan, negeri dan swasta, beberapa jenis sekolah, nasionalisme, keberagamaan, dan sosial capital, kurikulum fleksibel dan berkelanjutan, pendidikan jarak jauh, guru, dan pendidikan guru.Pada akhirnya diharapkan Buku ini dipertimbangkan sebagai dasar kebijakan pendidikan. Untuk lebih lengkap silakan Pembaca Unduh (Download) di sini

 

Tinggalkan Balasan