MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN (Implementasi Supervisi Individual dengan Pendekatan Plan, Do, Check, Act (PDCA), Berbasis Online dan Checklist Siswa)

ABSTRAK

 

Guru memiliki peranan penting dalam peningkatan mutu pendidikan, bahkan mutu guru merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan keberhasilan siswa dalam penyelenggaraan pembelajaran. Hasil pengawasan akademik tahun pelajaran 2015/2016, diperoleh fakta bahwa dari 44 orang guru matematika sebagai guru binaan, terdapat 3 (tiga) orang guru yang masih perlu diberikan pembinaan khusus. Pembinaan yang dilaksanakan menggunakan supervisi individual dengan pendekatan Plan, Do, Check, Act (PDCA)  berbasis online adalah pembinaan secara perseorangan oleh pengawas melalui siklus perencanaan, pelaksanaan, pengukuran dan tindak lanjut dengan memanfaatkan teknologi informasi yang disertai Checklist siswa berisi respon sebagai umpan balik guru mengajar. Pada akhir tahun pelajaran 2017/2018, ketiga orang guru (G1, G2 dan G3) berturut-turut memperoleh skor 79,07; 79,53; dan 82,33) sebagai hasil penilaian pengawas terhadap kualitas pembelajaran.Hasil perhitungan Uji Mann-Whitney (Z=1,964; α=0,05) menunjukkan adanya perbedaan antara skor awal dan skor akhir. Berarti ada pengaruh penerapan supervisi individual dengan pendekatan PDCA, teknik supervisi berbasis online yang disertai Checklist siswa terhadap kualitas pembelajaran guru. Berdasarkan uji beda yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa supervisi individual dengan pendekatan PDCA dengan teknik supervisi berbasis online yang disertai Checklist siswa dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guru, dan berdampak pada: (1) keleluasaan guru untuk berkonsultasi dan berinteraksi dengan pengawas dan guru lainnya tanpa ada kendala waktu, tempat, dan jarak serta tidak perlu bertatap muka secara langsung; (2) kompetensi guru dalam pemanfaatan Teknologi Informasi yang dapat mendukung keberhasilan pembelajaran; (3) komitmen pengawas dalam memberikan pembinaan guru secara real time sesuai kebutuhan guru; (4) Intensitas pembinaan guru terjaga sehingga mampu mendorong guru untuk terus melakukan perbaikan pembelajaran; (5) keterbukaan menerima saran dan kritik untuk perbaikan kualitas pembelajaran sebagai sikap professional melalui penilaian teman sejawat; dan (6)performance mengajar yang tinggi karena guru mengetahui siswa akan memberikan respon berupa Checklist setelah selesai kegiatan belajar mengajar di kelas.

Kata Kunci: Supervisi Individual, Supervisi Berbasis online, dan Checklist Siswa

 

  1. PENDAHULUAN

Guru memiliki peranan penting dalam peningkatan mutu pendidikan, bahkan mutu guru merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan keberhasilan siswa dalam penyelenggaraan pembelajaran. Dalam rangka menjaga mutu guru dalam pembelajaran di sekolah  dapat diterapkan salah satu fungsi manajemen, yaitu pengawasan. Pengawasan dilakukan oleh Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah difokuskan pada kegiatan supervisi akademik yang bertujuan memastikan mutu guru. Guru yang bermutu adalah guru yang selalu melakukan refleksi terhadap apa yang telah dilakukanya pada saat proses pembelajaran dan melakukan  perbaikan serta mengembangkan ide-ide inovatif dibidang pendidikan (Aqib, 2012:32).

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010,  Pengawas sekolah mempunyai ruang lingkup, tugas,    tanggung jawab dan wewenang untuk melakukan kegiatan pengendalian mutu pendidikan yang tercermin pada pelaksanaan supervisi manajerial dan akademik. Supervisi akademik ditujukan kepada kegiatan akademik yang berupa proses belajar mengajar, pengawasan terhadap guru dalam mengajar, pengawasan terhadap murid yang  belajar dan pengawasan terhadap situasi yang menyebabkannya (Suhardan, 2010:78). Pengawasan akademik merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok guru agar mampu melakukan refleksi dan perbaikan pembelajaran agar mutu pembelajaran ditingkatkan secara berkesinambungan.

Berdasarkan hasil pengawasan akademik tahun pelajaran 2015/2016, diperoleh fakta bahwa dari 44 orang guru matematika sebagai guru binaan, terdapat 3 (tiga) orang guru yang masih memperoleh skor kurang dari 70 pada pengukuran kompetensi penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hasil pembinaan secara khusus untuk penyusunan RPP kepada ketiga orang guru pada awal tahun pelajaran 2016/2017, kompetensi guru dalam penyusunan RPP telah memadai sebagaimana yang ditunjukkan oleh  peningkatan skor yang diperoleh guru. Selanjutnya ketiga orang guru tersebut perlu  dinilai dalam implementasinya dalam pelaksanaan pembelajaran untuk memantau mutu kegiatan belajar mengajar guru.

Hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran untuk ketiga guru tersebut ternyata memperoleh  skor kurang dari 75. Perlu dilakukan pembinaan dengan supervisi individual berupa pemberian layanan pembinaan oleh pengawas yang dilaksanakan secara perorangan kepada guru. Sedangkan untuk mengatasi kendala intensitas pembinaan, waktu, dan jarak dipilih teknik supervisi individual berbasis online (menggunakan aplikasi Google Drive, Web, dan What’sAp) yang memungkinkan guru secara leluasa berkonsultasi kepada pengawas kapan dan dimana saja tanpa perlu bertatap muka. Agar guru dapat secara langsung memperoleh respon siswa setelah mengikuti pembelajaran, pelaksanaan supervisi individual berbasis online dilengkapi dengan  tanggapan siswa berbentuk checklist terhadap pembelajaran yang diikutinya.

Pemantauan mutu pembelajaran dalam pelaksanaan supervisi akademik pada hakikatnya adalah pengendalian mutu yang dilaksanakan oleh pengawas. Pelaksanaan supervisi dalam konteks pengendalian mutu, menggunakan pendekatan menurut Deming (Planning, Do, Check, Act selanjutnya disebut Siklus PDCA ) sebagai proses penyelesaian masalah, dengan pola dan runtun yang sistematis. Siklus PDCA berguna sebagai pola kerja dalam perbaikan suatu proses atau sistem (Akhyar, 2008:41). Oleh karena itu, supervisi individual dilaksanakan menggunakan pendekatan PDCA, berbasis online yang disertai Checklist siswa. Oleh karena itu, masalah yang menjadi fokus pembahasan pada tulisan ini adalah: (1)“Bagaimanakah Supervisi Individual dengan Siklus PDCA,  Berbasis Online dan Checklist Siswa dapat Meningkatkan Mutu Pembelajaran?” dan (2)“Apakah Supervisi Individual dengan Siklus PDCA,  Berbasis Online dan Checklist Siswa berpengaruh terhadap peningkatan mutu pembelajaran?”.

Misi sekolah pada dasarnya adalah menyelenggarakan pengalaman pembelajaran yang bermutu bagi siswanya Mutu berasal dari kata quality dan sering dipadankan dengan kata mutu dalam bahasa Indonesia. Mutu menunjukkan  pada kadar, mutu, tingkat baik dan buruknya sesuatu (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, 2006:328). Kata mutu biasanya dirangkai dengan kata yang lain seperti  mutu pembelajaran, yang menunjukkan tingkat keberhasilan dari kegiatan belajar mengajar guru.

Pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru dan antara siswa dengan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Suwithi dkk, 2016:27). Lebih jauh pembelajaran merupakan proses yang berfungsi siswa mengembangkan dirinya sesuai lingkungan kehidupannya (Sardiman, 2010:53). Berarti pembelajaran dapat diartikan suatu proses siswa memperoleh pengetahuan dan ketrampilan untuk menghadapi perkembangan kehidupannya. Sejalan dengan pendapat di atas, pembelajaran merupakan proses di mana lingkungan sengaja dikelola sehingga siswa memungkinkan turut serta dengan prilaku tertentu (Majid, 2015:56). Berdasarkan uraian di atas, mutu pembelajaran adalah tingkat baik buruknya guru membimbing siswa dalam proses belajar mengajar di kelas.

Supervisi Pengawas merupakan salah satu rangkaian upaya peningkatan mutu  pembelajaran guru di kelas. Salah satu cara dalam peningkatan mutu adalah melalui proses Plan Do Check Act (PDCA) yang diterapkan dalam Supervisi individual dengan teknik supervisi berbasis online dan checklist siswa difokuskan kepada 3 (tiga) orang guru yang masing-masing 1 (satu) orang berasal dari SMPN 3 Bukitkemuning, SMPN 1 Abungtinggi, SMPM 1 Abungkunang  selama tahun pelajaran 2016/2017 dan pelaksanaannya pada tahun pelajaran 2017/2018 melalui prosedur seperti langkah-langkah berikut.

 

Tabel 1: Langkah-langkah Supervisi Individual dengan Teknik Supervisi Online

yang disertai Checklist Siswa

No Sintax Kegiatan
1 Perencanaan (Plan) 1.    Pengawas membuat rencana kepengawasan dan menyiapkan instrumen membentuk grup WA yang beranggotakan seluruh guru matematika binaan, dan menyepakati jadwal kunjungan

2.    Melaksanakan workshop pengembangan RPP

3.    Guru mengembangkan RPP yang akan disajikan dalam pembelajaran

2 Pelaksanaan (Do)  

1.    Guru melaksanakan pembelajaran berdasarkan RPP yang telah diperbaiki. Setiap pembelajaran, siswa diminta checklistnya melalui instrument yang disiapkan dan salah satu  pembelajaran di buatkan video

2.    Guru mengirim video ke grup wa guru binaan. Teman-teman sejawat memberikan penilaian melalui googleform yang dibuat oleh pengawas

3.    Berdasarkan video yang ditayangkan, guru, teman sejawat, dan pengawas melaksanakan diskusi intensif secara online

3 Pengukuran (Chek) Pelaksanaan pembelajaran disupervisi pengawas, teman sejawat dan checklist siswa
4 Tindak Lanjut (Act) 1.    Pengawas melaksanakan pembinaan kepada guru berdasarkan hasil checklist siswa, teman sejawat, dan penilaian video

2.    Guru memperbaiki RPP dan pelaksanaan pembelajaran berdasarkan masukanpengawas

 

 

Instrumen-instrumen yang digunakan dalam bestpractices ini adalah instrument standar yang biasa digunakan oleh pengawas sebagaimana yang dicontohkan dalam buku kerja pengawas. Instrumen tersebut (terlampir) di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Insrumen Supervisi Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran, yang bertujuan untuk mengumpulkan data-data hasil observasi perencanaan pelaksanaan pembelajaran. Hasil analisis data menggambarkan mutu RPP yang disusun oleh guru;
  2. Instrumen Supervisi Pelaksanaan Pembelajaran yang bertujuan mngumpulkan data-data hasil observasi pelaksanaan pembelajaran di kelas oleh guru. Hasil analisis data menggambarkan mutu pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di kelas;
  3. Instrumen Checklist Siswa yang disusun berdasarkan instrument pelaksanaan pembelajaran yang telah disederhanakan, bertujuan menjaring data mengenai checklist siswa terhadap guru mengajar. Hasil analisis data menggambarkan mutu pembelajaran guru dari perspektif siswa;
  4. Instrumen Penilaian Video Pembelajaran yang disusun berdasarkan instrument pelaksanaan pembelajaran bagi pengawas kemudian diubah dalam bentuk googleform. Penilaian dilakukan secara online oleh pengawas dan teman-teman sejawat. Data dianalisis untuk menilai mutu guru mengajar berdasarkan video yang ditayangkan.

Analisis dilaksanakan dengan melakukan telaah terhadap fenomena-fenomena secara keseluruhan, maupun terhadap bagian-bagian yang membentuk fenomena tersebut serta hubungan keterkaitan di antara unsur pembentukan fenomena (Iskandar, 2009:107).  Data kuantitatif hasil penilaian mutu Pelaksanaan Pembelajaran guru, dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif (prosentase) yang dapat ditampilkan melalui tabel, yang diinterpretasi  dengan deskriptif kualitatif. Keberhasilan supervisi individual dengan teknik supervisi berbasis online yang disertai checklist siswa apabila guru telah mencapai skor minimal 75 dengan kriteria “baik” (Panduan Buku Kerja Pengawas, 2017:109). Sedangkan untuk menguji adanya pengaruh supervisi individual dengan teknik supervisi berbasis online yang disertai checklist siswa menggunakan teknik statistika non parametrik, yaitu Uji Mann-Whitney (Sugiyono, 2012:343).

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengawasan akademik  merupakan   fungsi supervisi yang berkenaan  dengan pembinaan, pemantauan, penilaian, dan pembimbingan/pelatihan guru pada aspek kompetensi guru dan tugas pokok guru. Tujuan melaksanakan pembinaan pada pengawasan akademik adalah memberikan bimbingan kepada guru secara professional, yang dibuktikan dengan meningkatnya kinerja guru (Peraturan Menteri PAN & RB Nomor 21 Tahun 2010). Hasil pembinaan guru mata pelajaran matematika selama tahun pelajaran 2015/2016 masih ditemukan 3 (tiga) orang guru dari 44 orang guru binaan yang perlu bimbingan khusus pada penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).  Supervisi individual pada tahun pelajaran 2016/2017 kepada tiga orang guru ini, selama priode kepengawasan bulan Juli – Desember 2016 difokuskan pada penyusunan RPP yang bermutu.

Selanjutnya pada bulan Februari 2017, dilaksanakan penilaian pelaksanaan pembelajaran di kelas yang hasilnya terdapat pada Lampiran 3  dan ringkasan hasilnya  seperti pada tabel berikut.

 

TABEL 2: HASIL PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

NO SEKOLAH, DAN KODE GURU SKOR DESKRIPSI
1 SMPN 3 Bukit Kemuning (G1) 69 Guru telah menunjukkan mutu “cukup” secara keseluruhan, dan masih lemah pada kegiatan inti terutama aspek metode yang mengaarahkan siswa untuk menalar
2 SMPN 1 Abung Tinggi (G2) 74 Guru telah menunjukkan mutu “baik”, mengarahkan siswa untuk belajar menganalisis baru mulai berkembang
3 SMP Muhammadiyah Abung Kunang (G3) 73 Guru telah menunjukkan kualita pembelajaran dengan “baik”, siswa belajar menalar baru mulai berkembang

 

Skor pada tabel 1 menjadi skor awal dari ketiga orang guru (selanjutnya disebut G1, G2, dan G3) untuk dibimbing secara khusus melalui supervisi individual teknik supervisi berbasis online yang disertai checklist siswa.

Pengawasan akademik merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok guru agar mampu melakukan refleksi dan perbaikan pembelajaran agar mutu pembelajaran ditingkatkan secara berkesinambungan. Pembelajaran yang bermutu dapat dicapai apabila guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah bekerja sama untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Pelaksanaan supervisi individual dengan teknik supervisi berbasis online yang disertai cheklist siswa mengikuti proses siklus Plan, Do, Chek, dan Act (PDCA) sebagai berikut.

  1. Menyusun rencana kepengawasan akademik (RPA) yang memuat teknik supervisi berbasis online;
  2. Membentuk grup guru binaan pada media sosial WhatsApp (selanjutnya di sebut WA) untuk mempermudah dan mempercepat komunikasi antar pengawas dengan guru dan guru dengan guru;
  3. Menyusun dan memperbanyak instrument supervisi akademik, dan instrumen checklist siswa;
  4. Meng-onlinekan instrument Penilaian Video Pembelajaran dalam bentuk googleform untuk diakses oleh guru;
  5. Memberikan sosialisasi program supervisi akademik dengan teknik supervise berbasis online yang disertai checklist siswa kepada seluruh guru binaan pada saat supervisi di sekolah.
  6. Menyusun materi pengembangan pembinaan di situs https://guruceria.com dan dibagikan melalui WA

Skor hasil penilaian mutu pembelajaran G1, G2, dan G3 oleh pengawas pada saat pembelajaran di kelas seperti pada tabel 2 di bawah ini.

 

TABEL 3: SKOR AWAL PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

DAN HASIL AKHIR PENILAIAN OLEH PENGAWAS

NO KODE GURU DAN SEKOLAH SKOR

AWAL

SKOR AKHIR
1 G1, SMPN 3 Bukit Kemuning 69 79,07
2 G2, SMPN 1 Abung Tinggi 74 79,53
3 G3, SMP Muhammadiyah Abung Kunang 73 82,33

 

Setelah dilakukan penilaian akhir, skor mutu pembelajaran untuk masing-masing G1, G2 dan G3 berturut-turut mengalami kenaikan skor yaitu 10,07; 5,53; dan 9,33. Besaran kenaikan skor ini menandakan telah terjadi peningkatan mutu pembelajaran hasil perbaikan yang di lakukan guru secara terus menerus sepanjang Tahun Pelajaran 2017/2018. Untuk memastikan adanya pengaruh supervisi individual dengan teknik supervisi berbasis online yang disertai checklist siswa dilakukan uji statistika non parametrik yaitu uji beda menurut Uji Mann-Whitney (Sugiyono, 2012:345).

Hasil perhitungan Uji Mann-Whitney dengan α = 0,05 diperoleh Z=1,964 berada di wilayah penolakan H0 sehingga menerima hipotesis yang menyatakan ada perbedaan antara skor awal dan skor akhir. Berarti ada pengaruh penerapan supervisi individual dengan teknik supervisi berbasis online yang disertai checklist siswa terhadap mutu pembelajaran guru. Berdasarkan uji beda yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa mutu pembelajaran dapat di ‘dongkrak’ dengan supervisi individual dengan teknik supervisi berbasis online yang disertai checklist siswa.

Pengaruh dari supervisi yang telah dilakukan selama ini juga tercermin dari hasil penilaian video pembelajaran yang di-upload oleh teman sejawat secara ringkas seperti pada tabel di bawah ini.

 

TABEL 4: SKOR AWAL PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

DAN HASIL PENILAIAN VIDEO OLEH TEMAN  SEJAWAT

NO KODE GURU DAN SEKOLAH Skor SKOR OLEH TEMAN SEJAWAT
Vid 1 Vid 2 Vid 3 Vid 4 RATA

RATA

1 G1, SMPN 3 Bukit Kemuning 69 73,26 73,95 74,07 74,53 73,95
2 G2, SMPN 1 Abung Tinggi 74 77,21 77,33 77,56 77,67 77,44
3 G3, SMP Muh Abung Kunang 73 75,7 76,16 76,74 76,40 76,25

 

Tabel 4 menunjukkan bahwa G1 pada skor awal masih memperoleh kriteria “cukup” (69), menurut penilaian teman sejawat memperoleh kriteria “baik” (73,95) terjadi peningkatan skor sebesar 4,95. Sedangkan untuk G2 dan G3 tetap dalam kriteria “baik” namun  mengalami peningkatan skor untuk  masing-masing sebesar 3,44 dan 3,25. Guru diminta untuk mengumpulkan data checklist siswa setiap selesai pembelajaran, dan hasil rekapan  data dilaporkan melalui WA kepada pengawas yang berisi respon siswa mengenai kenyamanan dan kemudahan menguasai materi yang diajarkan guru. Siswa menjawab 15 butir pertanyaan dengan pilihan jawaban dua buah yaitu “ya” atau “tidak”. Data yang dikumpulkan melalui checklist ini dijadikan dasar pertimbangan pengawas untuk menganalisis mutu pembelajaran guru. Data checklist siswa ini ditunjukkan seperti pada tabel di bawah ini.

TABEL 4: RATA-RATA PROSENTASE  CHECKLIST SISWA

MENJAWAB “YA”  TERHADAP PELAKSANAAN

PEMBELAJARAN  GURU

NO KODE GURU DAN SEKOLAH % Menjawab “Ya”
1 G1, SMPN 3 Bukit Kemuning 79
2 G2, SMPN 1 Abung Tinggi 81
3 G3, SMP Muhammadiyah Abung Kunang 75

 

Tampak pada tabel, siswa yang diajar oleh G3 rata-rata 25% dari 32 siswa menyatakan kurang mengerti dan merasa kurang nyaman ketika belajar. Sedangkan untuk G1 dan G2, 20% siswa dari 32 orang menyatakan kurang mengerti dan merasa kurang nyaman ketika mengikuti pembelajaran guru. Diperoleh rata-rata antara 6—8 orang setiap kelas yang  masih merasa kesukaran memahami penjelasan guru dalam pembelajaran, mempermudah guru untuk merencanakan perbaikan pembelajaran dalam menentukan metode dan jenis perbaikannya.

Kekurangan yang utama dalam pelaksanaan supervisi individual dengan siklus PDCA, berbasis online dan checklist siswa terkait dengan jaringan internet dan handphone (HP)  yang digunakan oleh guru. Kekuatan sinyal yang berbeda-beda di lokasi guru dapat mengakibatkan kecepatan menerima dan mengirim informasi masing-masing guru berbeda dan juga memerlukan jenis HP yang mendukung untuk kecepatan akses. Walaupun memiliki keterbatasan tersebut, penerapan supervisi individual dengan siklus PDCA, berbasis online dan checklist siswa memberikan dampak positif diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Memberikan keleluasaan kepada guru untuk berkonsultasi dan berinteraksi dengan pengawas dan guru lainnya tanpa ada kendala waktu, tempat, dan jarak serta tidak perlu bertatap muka secara langsung. Apabila guru menghadapi permasalahan pembelajaran, dengan cepat dikonsultasikan kepada pengawas sehingga memungkinkan guru segera memperbaiki pembelajaran agar lebih bermutu dari pada sebelumnya. Pembelajaran yang bermutu akan berdampak pada mutu lulusan.
  2. Meningkatkan kompetensi guru dalam pemanfaatan Teknologi Informasi dalam pembelajaran. Meningkatnya kompetensi guru berpengaruh terhadap penyelengaraan pembelajaran dan penegembangan diri. Proses pembelajaran yang baik akan dapat meningkatkan mutu belajar siswa sehingga secara tidak langsung penerapan supervisi individual dengan teknik supervisi berbasis online yang disertai checklist siswa berpengaruh pada meningkatnya mutu pembelajaran.
  3. Meningkatkan komitmen pengawas dalam memberikan pembinaan guru secara real time sesuai kebutuhan guru. Guru dan pengawas bekerja sama secara ulet, berdedikasi tinggi untuk mencapai tujuan bersama yaitu memberikan layanan pendidikan bermutu melalui pembelajaran di kelas.
  4. Memudahkan pengawas melakukan pembinaan kepada lebih dari satu orang guru sekaligus, tanpa harus mengunjungi sekolah masing-masing. Intensitas pembinaan guru terjaga sehingga mampu mendorong guru untuk terus melakukan perbaikan pembelajaran. Pembinaan yang intensif berpengaruh kepada mutu pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di kelas sehingga siswa dengan mudah menerima materi pembelajaran.
  5. Menumbuhkan sikap terbuka, mau menerima saran dan kritik untuk perbaikan mutu pembelajaran sebagai sikap professional melalui penilaian teman sejawat. Sikap terbuka guru memungkinkan mudah menerima pembaharuan pembelajaran, sehingga perbaikan dilakukan terus menerus agar siswa mudah menguasai konsep pembelajaran. Penguasaan konsep materi dalam pembelajaran, berpengaruh bagi siswa untuk memperoleh hasil belajar.
  6. Menampilkan performance mengajar yang tinggi karena guru mengetahui siswa akan memberikan respon berupa checklist setelah selesai kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru akan powerful melakukan persiapan mengajar, melaksanakan pembelajaran dan menilai hasil belajar siswa sehingga guru secara sungguh-sungguh menampilkan pembelajaran yang dapat memudahkan siswa belajar. Kesungguhan ini secara tidak langsung guru berusaha melaksanakan pembelajaran dengan mutu setinggi mungkin (Kilbane dan Milman,2014:56). Checklist siswa tentang guru mengajar berpengaruh terhadap mutu pembelajaran.

Berdasarkan uraian kelima dampak akibat penerapan supervisi individual dengan siklus PDCA, berbasis online dan checklist siswa, bagi siswa adalah memperoleh layanan pembelajaran yang optimall dari guru. Layanan pembelajaran yang optimal berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa.  Pada akhirnya, seluruh upaya yang dilakukan pengawas dan guru secara bersama-sama dalam kegiatan supervise ini ditujukan kepada upaya meningkatkan kompetnsi belajar siswa sehingga sekolah mencetak lulusan yang  lebih bermutu dari pada sebelumnya.

Lulusan sekolah yang bermutu diraih oleh sekolah dalam kurun waktu lama, didukung sarana prasarana sekolah yang memadai, manajemen sekolah yang bermutu, serta pembelajaran yang bermutu tinggi. Pembelajaran yang bermutu dipengaruhi oleh metode dan teknik supervise pengawas. Dengan demikian, penerapan supervisi individual dengan teknik supervisi berbasis online yang disertai siswa mempengaruhi mutu pembelajaran guru. Pelaksanaan pembelajaran yang bermutu mampu mempermudah siswa menerima materi pembelajaran di kelas, sehingga keberhasilan belajar siswa dapat dicapai.

 

  1. SIMPULAN DAN REKOMENDASI

Hasil perhitungan Uji Mann-Whitney (Z=1,964; α=0,05) menunjukkan adanya perbedaan antara skor awal dan skor akhir. Berarti ada pengaruh penerapan supervisi individual dengan teknik supervisi berbasis online yang disertai checklist siswa terhadap mutu pembelajaran guru. Berdasarkan uji beda yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa supervisi individual dengan teknik supervisi berbasis online yang disertai checklist siswa dapat ‘mendongkrak’ mutu pembelajaran guru, dan berdampak pada:

  1. keleluasaan guru untuk berkonsultasi dan berinteraksi dengan pengawas dan guru lainnya tanpa ada kendala waktu, tempat, dan jarak serta tidak perlu bertatap muka secara langsung;
  2. kompetensi guru dalam pemanfaatan Teknologi Informasi yang dapat mendukung keberhasilan pembelajaran;
  3. komitmen pengawas dalam memberikan pembinaan guru secara real time sesuai kebutuhan guru;
  4. Intensitas pembinaan guru terjaga sehingga mampu mendorong guru untuk terus melakukan perbaikan pembelajaran;
  5. keterbukaan menerima saran dan kritik untuk perbaikan mutu pembelajaran sebagai sikap professional melalui penilaian teman sejawat;
  6. performance mengajar yang tinggi karena guru mengetahui siswa akan memberikan respon berupa checklist setelah selesai kegiatan belajar mengajar di kelas.

 

Rekomendasi hasil dari Best Practices ini ditujukan kepada

  1. Pengawas Sekolah hendaknya dalam melaksanakan kepengawasan pendidikan perlu mencari teknik dan strategi agar dapat dilaksanakan secara optimal, seperti teknik supervise berbasis online yang disertai checklist siswa dapat mengatasi kendala waktu, tempat, dan jarak sehingga pembinaan guru tidak harus tatap muka.
  2. Guru agar secara bijaksana meminta pembinaan secara online kepada Pengawas Pembinanya dengan memanfaatkan supervisi individual dengan siklus PDCA, berbasis online dan checklist siswa untuk mengatasi jarak dan waktu pembinaan.
  3. Kepala Sekolah hendaknya dapat menerapkan supervisi individual dengan siklus PDCA, berbasis online dan checklist siswa kepada guru-guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran guru
  4. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Utara agar mendorong para Pengawas sekolah melaksanakan kepengawasan pendidikan dengan menggunakan berbagai teknik, misalnya dengan memanfaatkan teknologi informasi seperti Supervisi Individual dengan teknik Supervisi berbasis online yang disertai checklist siswa ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Akhyar, Y. (2008). PDCA cycle (plan, do, check, and action). Diakses dari https://yayanakhyar. wordpress.com/2008/06/30/pdca-cycle-plando-check-and-action/

 

Aqib, Z. 2002. Pofesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya:Cendekia

 

Chan, Sam M. 2010. Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

 

Iskandar.2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Alfabeta

 

Kemdikbud RI. 2017. Panduan Buku Kerja Pengawas. Jakarta: Direktorat Jenderal GTK Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI

 

Kemdikbud. 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa

 

Kilbane, Clare R and Milman, Natalie B. 2014. Teaching Models. Designing Instruction for 21st Century Learners. New Jersey: Pearson Education Inc

 

Majid, Abdul. 2015. Model-model Pembelajaran Interaktif. Jakarta: Rajawali Pers

 

Negara RI. 2010. Peraturan Mentri PAN & RB Nomor 21 tahun 2010. Jakarta: Lembaran Negara Republik Indonesia

 

Sardiman.2010. Pembelajaran Interaktif. Jakarta: Rajawali Pers

 

Sugiyono. 2012. Statistika untuk Penelitian. Jakarta: Alfabeta

 

Suhardan, Dadang. 2010. Supervisi Profesional (Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah). Jakarta: Alfabeta

 

Suwithi, Wayan dkk. 2016. Supervisi Akademik. Modul Program Pengawas Pebelajar. Jakarta: Dirjen GTK

 

Taqizar. 2018. Supervisi Berbasis IT. Jurnal At-Tadbir STAI Darul Kamal NW Kembang kerang Volume I No 2 Tahun 2018 ISSN : 2580-3433

 

Uno, H.B. 2009a. Model Pembelajaran (Menciptakan Proses Beljar Mengajar

yang Kreatif dan Efektif). Jakarta: Bumi Aksara.

 

Valerie, L. 2012. Online Supervision of Field education. Iternational Journal Field

Educator Simmon School of Social Work, Vol.2(1):215-219

 

 

BIODATA

 

 

                           AAN SURURI, Lahir di Serang tanggal 25 Oktober 1967

sebagai anak ke-3 dari 8 bersaudara. Pendidikan SD, SMP, dan

SMA diselesaikan di Serang Banten. Pendidikan DIII/AIII

Pendidikan Matematika lulus tahun 1989 dari Universitas

Lampung, dan S1/AIV Pendidikan Matematika Lulus Tahun

1995 dari Universitas Terbuka. Tahun 2005, menyelesaikan S2

jurusan Teknologi Pendidikan dari Universitas Lampung. Sejak

tahun 2010 menempuh pendidikan S3 di UNJ jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP).

 

Tahun 1990 diangkat menjadi guru SMP, dan semenjak itu berkarir sebagai guru yang aktif mengikuti berbagai kegiatan peningkatan mutu pendidikan seperti menjadi Guru Inti Matematika SMP, Instruktur PAKEM, dan menjadi Ketua MGMP Matematika SMP. Aktif melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sejak tahun 1999 sehingga sering mengikuti Simposium Guru Nasional Tahun 2000, 2001, dan 2002. Pernah menjabat Kepala SMPN 1 Sungkai Selatan. Pada tahun 2010, beralih fungsi menjadi Pengawas SMP di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Utara.

 

Prestasi yang telah dicapai selama menjadi Guru dan Pengawas di antaranya adalah: (1) Guru Berprestasi I tingkat Provinsi Lampung untuk jenjang SMP tahun 2003 dan menjadi Finalis Guru Berprestasi Tingkat Nasional; (2) Pengawas SMP Berprestasi III Provinsi Lampung Tahun 2015; (3) Peserta Terbaik II Lomba Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) pada kegiatan Simposium Nasional Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah Tahun 2017; dan (4) Finalis Lomba Best Practices Pengawas Tingkat Nasional Tahun 2018.

Tinggalkan Balasan