Pembelajaran Berdiferensiasi, mungkinkah?

Pengantar Kata, sepintas judul tulisan ini menyiratkan optimisme sekaligus keraguan tentang pembelajaran berdiferensiasi dapat diterapkan di kelas oleh guru dengan menimbang dan memperhatikan praktik pendidikan di sekolah selama ini. Benar pada standar proses disebutkan bahwa pembelajaran guru harus memperhatikan perbedaan dan potensi siswa namun pada praktiknya banyak kebijakan pendidikan yang membelenggu daya kreativitas guru, misalnya keharusan menuntaskan seluruh kompetensi dasar seperti pada standar isi. Guru begitu fokus menyelesaikan seluruh materi pada semester itu terlupa akan kebutuhan belajar siswa.

Teori pendidikan semua berlandaskan pada pemahaman bahwa kodrat manusia itu dilahirkan unik dan berbeda satu sama lainnya. Mustahil berhasil memperlakukan hal yang sama kepada sesuatu yang memang berbeda. Dalam hal ini, semua sepakat bahwa guru harus mengajar dengan pendekatan, strategi, metode, teknik serta cara-cara yang berbeda disesuaikan dengan karakteristik peserta didik yang berbeda dalam hal: kesiapan belajar siswa terkait dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (konstrukvism); minat merupakan hasrat dalam diri seseorang yang berupa rasa penasaran, ingin berhasil atau sikap keingintahuan tentang sesuatu; sedangakan profil belajar siswa terkait dengan gaya belajar atau belajar sesuai dengan cara yang mereka sukai.

Apa yang dimaksud pembelajaran berdiferensiasi?  Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap siswa (Tomlinson: 2001, “How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom” ). Kebutuhan belajar siswa terkait dengan kesiapan, minat dan profil belajar. Tentu saja guru tidak mungkin dapat melayani kebutuhan individu setiap siswa yang berbeda-beda dalam waktu pembelajaran yang sama karena jumlah siswa di kelas antara 28 – 36 orang. Kemampuan guru dalam merancang pembelajaran berdiferensiasi menjadi point sangat penting sebelum melaksanakan pembelajaran. Guru perlu melakukan analisis kesiapan, minat, dan profil dan menggolongkannya paling tidak dalam 3 (tiga) kelompok kebutuhan siswa agar mudah melakukan diferensiasi dalam pembelajaran.

Menganalisis kebutuhan belajar siswa merupakan kegiatan awal dan penting bagi guru sebelum merancang pembelajaran. Apabila guru-guru belum terbiasa melakukan analisis ini, bisa jadi akan mengalami kesukaran dalam merancang pembelajaran. Guru perlu belajar kembali dan menumbuhkan sikap mandiri dalam hal menganalisis dan merancang pembelajaran berdiferensiasi. Kebiasaan selama ini misalnya mengajar hanya fokus pada ketuntasan materi perlu dipertimbangkan untuk diubah pada fokus kebutuhan siswa belajar. Dukungan suasana akademik sekolah mempercepat guru berani mengambil sikap untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Misalnya, sekolah tidak hanya menomor satukan hasil belajar kognitif sebagai satu-satunya keberhasilan belajar akan menjadi dorongan guru melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan belajar siswa.

Apa Tantangan Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran berdiferensiasi?  Pembelajaran berdiferensiasi merupakan keputusan guru untuk melaksanakan pembelajaran berdasarkan kebutuhan belajar siswa yang akan menghadapi tantangan-tantangan sebagai berikut:

  1. Lingkungan belajar sekolah yang selama ini berjalan seperti biasanya, dan sikap rekan sejawat yang berpandangan bahwa yang penting rutin mengajar dan pada akhirnya setiap akhir tahun siswa akan lulus dari sekolah. Dengan demikian apabila akan melakukan pembelajaran berdiferensiasi, guru harus mencari cara  bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap siswa di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
  2. Kurikulum yang menuntut ketuntasan materi, sistem pembelajaran dan hasil belajar secara klasikal menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam merancang pembelajaran berdiferensiasi. Guru harus memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
  3. Ujian atau ulangan secara bersama dalam satu daerah dan Dinas terkait menghargai keberhasilan satu sekolah berdasarkan hasil siswa ujian atau ulangan secara bersama tersebut, akan menyulitkan guru melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Mengapa? Guru harus melakukan penilaian berkelanjutan untuk memperoleh informasi lengkap dan menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan siswa mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, siswa mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
  4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) selalu memungkinkan terjadi penyesuaian.  Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar siswanya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  5. Manajemen sekolah yang kurang berorientasi kepada mutu, dan berjalan ‘biasa-biasa’ saja mengharuskan guru bergerak sendirian untuk menciptakan manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

Penutup Kata: apakah pembelajaran berdiferensiasi dapat dilaksanakan oleh Guru? Sangat mudah secara teori namun pada kenyataannya guru akan banyak menemui hambatan pada saat akan memulai pembelajaran ini terutama dari dalam diri guru itu sendiri. Sekolah (baca Kepala Sekolah) perlu memberi dukungan dengan mengkondisikan suasana belajar sekolah yang kondusif, dan pemberian perhatian peningkatan mutu pembelajaran melalui kegiatan supervisi kelas yang terencana. Sebenarnya setiap guru mampu melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi karena selama ini guru begitu luar biasa telah melayani belajar siswa dengan cara-cara natural yang muncul spontan pada saat pembelajaran.

Tulisan ini mengarahkan guru untuk benar-benar merancang pembelajaran secara berdiferensiasi. Guru harus mulai dari diri sendiri untuk mengubah kebiasaan merasa nyaman selama ini menjadi rasa gelisah memikirkan siswa-siswanya. Mulailah memetakan kesiapan belajar siswa, dengan teknik asesmen yang mudah dilakukan. Lakukan asesmen minat dan profil siswa belajar sehingga setiap awal tahun guru memiliki data lengkap tentang kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar.  Ayo kita bisa!!!

Tinggalkan Balasan