Lompat ke konten

Perencanaan Sekolah Berbasis Data: Identifikasi, Refleksi, dan Benahi

Pendahuluan

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi meluncurkan Program Merdeka Belajar Episode 19 yaitu Perencanaan Sekolah Berbasis Data dengan dasar Dasar Hukum PP No. 57 tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Permendikbudristek No. 09 tahun 2022 tentang Evaluasi Sistem Pendidikan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Terhadap Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Kewajiban mengevaluasi diri bagi sekolah berdasarkan pelayanan pendidikan yang diberikan selama ini, salah satunya tercermin dari data-data hasil Asesmen Nasional (AN) dan Survey Lingkungan Belajar. Asesmen Nasional (AN) dilakukan untuk mengukur kemampuan Literasi dan Numerasi Peserta Didik dan hasilnya menggambarkan output pendidikan di sekolah. Data hasil Asesmen Nasional dijadikan dasar sekolah memperbaiki layanan pendidikan.

Perencanaan berbasis data adalah sebuah perubahan kebiasaan untuk mendorong satuan pendidikan dan dinas pendidikan menyusun kegiatan peningkatan capaian pembelajaran berdasarkan fakta. Untuk memberikan data yang lengkap agar sekolah dapat melakukan evaluasi diri, maka Kementrian meluncurkan Profil Pendidikan yang memiliki pengertian berupa laporan komprehensif mengenai layanan pendidikan sebagai hasil dari Evaluasi Sistem Pendidikan yang digunakan sebagai landasan untuk peningkatan mutu layanan pendidikan dan penetapan Rapor Pendidikan. Sumber data untuk Profil Pendidikan: Asesmen Nasional, Dapodik, Data Kependidikan Kemenag, Tracer Study, Platform Digital Guru dan Kepala Sekolah,  Data GTK, BPS yang dievaluasi secara internal dan eksternal menghasilkan profil pendidikan lengkap, dan bersifat diagnostik.

Indikator terpilih dari Profil Pendidikan yang merefleksikan prioritas Kemendikbudristek yang digunakan untuk menilai kinerja daerah dan satuan pendidikan disebut Rapor Pendidikan yang diperoleh dari perbandingan nilai indikator antar tahun yang memuat hasil Asesmen Nasional dan Survey Lingkungan. Setelah sekolah menerima rapor pendidikan, selanjutnya beberapa pertanyaan penting yang muncul yaitu (1) apa yang harus dilakukan oleh sekolah? (2) Tahapan apa saja yang harus dilakukan agar dapat membuat rencana perbaikan? dan (3) Bagaimana mengaitkan solusi ke dalam RKAS? Berikut uraian jawaban dari pertanyaan tersebut.

Apa yang Harus dilakukan oleh Sekolah?

Setelah mendownload Rapor Pendidikan hendaknya sekolah segera menyadari bahwa output pendidikan yang diberikan dalam pelayanan selama ini tercermin dari data pada rapor pendidikan. Oleh karena itu hendaknya sekolah memiliki dan melaksanakan suatu sistem penjaminan mutu internal dengan mengaktifkan (1) Tim Pengembang Sekolah dan (2) Tim Evaluasi Internal. Sistem ini harus berjalan dengan basis data dan fakta yang ada di sekolah, bukan program atau kegiatan berdasarkan kepentingan Dinas. Langkah-langkah sekolah yang harus ditempuh adalah

  1. Membaca Rapor Pendidikan dan berdiskusi bersama Tim Pengembang Sekolah
  2. Menganalisis kelemahan dan keunggulan sekolah berdasarkan data rapor pendidikan
  3. Berkolaborasi dengan stakeholder sekolah untuk menetapkan solusi

Sebagai contoh hasil membaca dan menganalisis rapor pendidikan dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Tahapan Sekolah dalam Melakukan Perencanaan Berbasis Data

  1. Identifikasi: pada tahap ini sekolah menetapkan masalah dari output Rapor Pendidikan yang berkaitan dengan kemampuan literasi , numerasi, indeks Karakter, ikllim keamanan sekolah, dan iklim kebinnekaan
  2. Refleksi:: menganalisis untuk menentukan akar masalah berdasarkan hasil output pada rapor pendidikan. Contoh: Kemampuan Literasi (A1) memperoleh capaian di bawah kompetensi minimal (seagai masalah) maka akar masalahnya dianalisis dari perolehan capaian pada level 2 yang disimbolkan A.1.1, A.1.2, A.1.3, A.1.4, dan A.1.5 yang memperoleh capaian yang paling rendah.
  3. Benahi: menentukan solusi untuk memperbaiki akar  masalah berupa program dan kegiatan
  4. Menyusun RKT: program dan kegiatan disusun berdasarkan priritas sumber daya dan waktu
  5.  RKAS: menetapkan barang dan jasa dari program atau kegiatan yang memerlukan biaya

Tahapan ini memberikan gambaran bahwa rencana kegiatan tahunan sekolah harus dibuat berdasarkan data pada profil pendidikan berupa rapor pendidikan. Pada era digital ini, Kementrian akan mengsinkronkan perencanaan berbasis data pada aplikasi ARKAS dan dapat dipantau oleh MARKAS Dinas Pendidikan dan Keudayaan. Ke depan, sekolah-sekolah akan lebih terarah dan memiliki kepastian data untuk dijadikan bahan evaluasi diri untuk menentukan program dan kegiatan.

(Sumber Tulisan ini dari Bahan yang diperoleh sebagai Peserta Bimtek PDB Reg 1, pada bulan Juli 2022 di Tangerang yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ristek)

 

Tinggalkan Balasan

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!