Rangkuman Penilaian Kualitatif Sekolah (Perspektif Asesor Sekolah/Madrasah BAN S/M)

Akreditasi Sekolah/Madrasah mulai tahun 2020 menggunakan Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan (IASP) 2020 dengan paradigma baru yaitu berbasis kinerja Sekolah jauh berbeda dengan kegiatan akreditasi sebelumnya yang berbasis administrasi. Empat komponen yaitu mutu lulusan, proses pembelajaran, mutu guru dan manajemen sekolah yang akan di klarifikasi, verifikasi dan validasi oleh asesor dalam kegiatan visitasi daring maupun luring. Pada kegiatan visitasi, ada kegiatan temu akhir asesor di hari kedua yang salah satu agendanya memberikan rangkuman penilaian kualitatif (bukan nilai akreditasi) sebagai masukan sekolah untuk perbaikan agar lebih baik lagi. Penilaian kualitatif merupakan penilaian dalam bentuk deskriptif yang bersumber dari hasil observasi, telaah dokumen, dan wawancara dengan teknik analisis data menggunakan triangulasi. Tentu saja penyusunan dan pemberian penilaian kualitatif tidak diharuskan karena tidak ada di POS akreditasi, namun akan menjadi penting bagi sekolah karena diberikan feedback yang benar-benar berasal dari evaluasi diri sekolah bagi perbaikan sekolah. Berikut adalah contoh rangkuman penilaian kualitatif sebagai praktik baik asesor.

(SMA MBS Poncowati Lampung Tengah) Kebersamaan yang ditunjukkan oleh segenap warga sekolah mulai dari jajaran manajemen, komite, guru, dan tenaga kependidikan lainnya merupakan salah satu pondasi sekolah ini menuju sekolah unggul pilihan masyarakat. Feedback orang tua (tiga orang) terhadap pelayanan pendidikan sekolah ini memberikan penilaian positif terhadap hasil pendidikan dari segi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Indikasi karakter religius yang ditunjukkan siswa ketika di rumah seperti kesantunan, adab, dan ibadah wajib merupakan salah satu hasil pembiasaan yang diterapkan sekolah.

Mutu lulusan ditunjukkan dari prestasi mengikuti lomba akademik dan non akademik sampai tingkat provinsi. Apabila ditinjau dari  persentase lulusan yang diterima di perguruan tinggi, sekolah ini merupakan sekolah yang ‘luar biasa’ dikarenakan baru pertama kali meluluskan siswa ternyata lebih dari 75% diterima di perguruan tinggi sisanya melanjutkan pesantren. Data data ini dapat dijadikan semacam ‘miles stone’ sebagai pijakan rencana pengembangan selanjutnya agar lulusan dari sekolah ini  ke depan lebih bermutu.

Guru-guru yang mengajar di sekolah ini masih relatif muda dan rata rata belum lima tahun lulus dari perguruan tinggi. Komitmen dan etos kerja masih dapat ditingkatkan melalui berbagai inovasi manajemen perubahan dipadukan dengan ketentuan ketenagaan pendidikan yang ditetapkan majlis dikdasmen persyarikatan Muhammadiyah. Boarding School merupakan sistem pelayanan pendidikan yang holistik selama 24 jam, perlu benar-benar dipahami oleh guru, para pengasuh asrama, dan manajemen agar tidak terjadi pemisahan guru sekolah dan guru pesantren. Pengelolaan pendidikan dalam sistem asrama tentu saja memiliki ciri khusus yaitu pendidikan 24 jam yang berbeda dengan sekolah non boarding. Guru perlu diberikan penguatan tentang sistem boarding school melalui kegiatan magang singkat satu minggu atau studi banding di lembaga sejenis yang lebih maju.

Proses pembelajaran yang telah dilakukan sesuai standar biasa yang telah ditetapkan, namun menghasilkan lulusan yang banyak di terima di PTN. Konsekwensinya, apabila proses pembelajaran dilakukan secara inovatif dan kreatif melebihi standar yang biasa akan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi pengetahuan dan keterampilan yang melebihi lulusan yang sekarang. Upaya untuk menumbuhkan inovasi di mulai dari refleksi guru atas feedback siswa terhadap guru dalam mengelola pembelajaran. Hasil analisis feedback siswa dijadikan dasar merancang pembelajaran berikutnya disesuaikan dengan kebutuhan dan keragaman kognitif, sikap, keterampilan dan sosial  siswa. Mulailah dengan membentuk komunitas praktisi, yang melaksanakan diskusi bersama mengikuti siklus perbaikan sebagai berikut: (1) pemberian feedback guru oleh siswa; (2) analisis; (3) berbagi praktik baik dalam komunitas; (3) mengambil pelajaran; (4) penerapan solusi terus kembali lagi pada pemberian feedback guru; dst.

Manajemen sekolah telah mengelola sekolah selama ini sesuai kesepakatan bersama namun perlu penguatan pada  rekuitmen pegawai dan sistem pembinaannya. Sistem rekuitmen pegawai perlu didorong secara terbuka dan berkala melalui seleksi yang transparan, adil dan objektif. Supervisi oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah harus direncanakan secara matang, dilaksanakan secara konsisten, dan ditindaklanjuti sesuai solusi yang disepakati bersama. Budayakan berbagi praktik baik di lingkungan sekolah dan berbagi masalah untuk dicarikan solusinya. Peningkatan kompetensi perlu dipertimbangkan menerapkan sistem magang di lembaga yang sejenis daripada sekedar pelatihan saja. Tentu saja, jangan melupakan sistem salary harus memberikan ruang agar pegawai lebih terjamin kesejahteraannnya dari tahun ke tahun. Pertimbangkan penggajian secara naik berkala sesuai lama bekerja dan  kemampuan keuangan lembaga. Semoga hal hal yang telah baik selama ini, semakin tambah baik. Sekolah ini ke depan benar benar menjadi pilihan masyarakat untuk menyekolahkan putera puterinya.

Tinggalkan Balasan