Triangulasi, Teknik Penggalian Data pada Penilaian Akreditasi Sekolah/Madrasah Menggunakan IASP 2020

Prakata

Perubahan paradigma pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah dari pemenuhan administrasi menjadi berbasis Performance (kinerja sekolah) telah membawa perubahan teknik penggalian data oleh Asesor BAN SM. Sebagaimana dalam Kepmendikbud 1005/P/2020, telah diatur bagaimana cara penggalian data dengan menggunakan tiga cara yaitu obserasi, telaah dokumen, dan wawancara kepada Kepala Sekolah, Guru, Siswa dan Orang tua/Komite Sekolah. Dalam metode penelitian, teknik ini disebut Teknik Triangulasi.

Sepintas Tentang Triangulasi

Triangulasi merupakan salah satu pendekatan yang dilakukan peneliti untuk menggali dan melakukan teknik pengumpulan data kualitatif. Teknik triangulasi bisa diibaratkan sebagai teknik pemeriksaan keabsahan data dengan membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian. Dalam teknik analisis data kualitatif, instrumen terpenting adalah dari peneliti itu sendiri. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2010:330) Sedangkan Sugiyono (2018, hlm. 189) menyatakan “triangulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Denzin (1970), triangulasi adalah angkah pemaduan berbagai sumber data,peneliti, teori, dan metode dalam suatu penelitian tentang suatu gejala sosial tertentu. Empat jenis triangulasi yaitu sebagai berikut

Triangulasi Sumber Data

Triangulasi sumber data adalah pengumpulan data dari beragam sumber yang saling berbeda dengan menggunakan suatu metode yang sama. Dalam triangulasi sumber data perlu diperhatikan adanya tiga tipe sumber data yaitu waktu (misalnya: kegiatan harian atau musiman), ruang (misalnya: rumah atau dusun/desa), dan orang. Orang sebagai sumber data juga masih dapat dibedakan ke dalam tiga kategori yaitu agregat (individu-individu sampel terpilih), interaktif (grup kecil, keluarga, kelompok kerja), dan kolektivitas (organisasi, komunitas, masyarakat desa).

Triangulasi Peneliti

Triangulasi peneliti adalah pelibatan sejumlah peneliti yang berbeda disiplin ilmunya dalam suatu penelitian yang sama. Triangulasi peneliti dimaksudkan antara lain untuk menghindari potensi bias individu pada peneliti tunggal.

Triangulasi Teori

Triangulasi teori adalah penggunaan sejumlah perspektifatau teori dalam menafsir seperangkat data. Triangulasi teori ini sebenarnya jarang sekali tercapai dalam penelitian sosial. Soalnya berbagai teori, karena memiliki asumsi-asumsi dasar yang berbeda, akan menerangkan seperangkat data yang sama secara berbeda pula.

Triangulasi Metode

Triangulasi metode adalah penggunaan sejumlah metode pengumpulan data dalam suatu penelitian. Triangulasi metode diperlukan karena setiap metode pengumpulan data memiliki kelemahan dan keunggulannya sendiri. Dengan memadukan sedikitnya tiga metode, misalnya pengamatan berperanserta, wawancara mendalam, dan penelusuran dokumen, maka satu dan lain metode akan saling menutup kelemahan sehingga tangkapan atas realitas sosial menjadi lebih terpercaya.

Bagaimana Triangulasi sebagai Teknik Penggalian Data pada IASP 2020?

Penilaian pada butir 1 untuk mutu lulusan terdiri dari empat level, asesor harus menggali data pembuktian kinerja sekolah. Dipastikan sekolah akan mengisi level tertinggi, oleh sebab itu asesor harus dapat membuktikan kedisiplinan siswa telah menjadi budaya yaitu dilaksanakan secara terus menerus setiap hari dan terdapat bukti pengakuan prestasi.

Penggalian data menggunakan teknik triangulasi, dengan tiga cara yaitu teknik observasi, telaah dokumen, dan wawancara. Hasil penggalian data dituangkan dalam tabel kerja, kemudian dianalisis secara cermat dan teliti. Kriteria yang digunakan pada butir 1 ini, menggunakan kata kunci yaitu: membudaya dan pengakuan prestasi. Pada tahap ini, asesor menjadi instrumen yang terpenting untuk menentukan kesimpulan penilaian butir 1 berada pada level ke berapa. Kemampuan dan keterampilan menganalisis memegang peranan penting terhadap kesimpulan penilaian yang ditetapkan oleh seorang asesor.

Apa yang harus diobservasi pada butir 1?

Pembuktian kinerja pada Butir 1, menggunakan teknik observasi meliputi pengamatan terhadap kedisiplinan waktu, berpakaian seragam, dan kepatuhan siswa terhadap tata tertib sekolah. Asesor menuliskan hasil pengamatan pada tabel kerja seperti di bawah ini:

Dokumen apa yang akan ditelaah Asesor?

Seperti pada gambar di atas, dokumen tata tertib, buku piket, dan catatan guru/wali kelas akan ditelaah secara seksama oleh Asesor untuk membuktikan tingkat kedisiplinan siswa. Sekolah harus benar-benar meng-upload dokumen yang sesuai di sispena karena telaah dokumen dilaksanakan terlebih dahulu sebelum asesor melakukan visitasi ke sekolah. Sama halnya dengan teknik observasi, hasil telaah dokumen juga harus dituangkan pada tabel kerja seperti di atas.

Bagaimana Wawancara dilakukan oleh asesor?

Pembuktian kinerja pada saat visitasi dilakukan dengan teknik wawancara kepada Kepala/Wakil Kepala Sekolah, Guru, Orang Tua, Komite Sekolah, Tokoh Masyarakat, dan siswa itu sendiri. Hasil wawancara akan meyakinkan hasil observasi dan telaah dokumen yang telah dilakukan. Pada butir 1, pertanyaan wawancara meliputi kedisiplinan waktu di sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan di dalam/luar kelas, kedisiplinan berseragam sekolah, dan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah.

Setelah selesai penggalian data melalui tiga teknik, asesor akan melakukan analisis dan membuat kesimpulan penilaian. Berdasarkan kesimpulan penilaian ini (minimal 50 kata) ditentukkan sekolah memperoleh level berapa untuk butir nomor 1. Misalkan, setelah dianalisis hasil triangulasi penggalian data, asesor membuat kesimpulan seperti ini:

Kehadiran siswa di sekolah, dalam kelas dan pada waktu kegiatan ekstra kurikuler menunjukkan kepatuhan waktu, berpakaian, baik di dalam maupun di luar sekolah, kecuali siswa yang sakit yang hanya menunjukkan prosentasi 2% pertahun. Tata tertib telah mencantumkan sangsi dan penghargaan, dan ternyata tidak ada satupun yang terkena sangsi kedisiplinan dan setiap akhir semester siswa diberikan penghargaan “Teladan” yang mencakup kedisiplinan dan akademik. Dalam buku kasus, tidak ditemui catatan siswa bolos, merokok, dan bentuk pelangggaran berat yang lain kecuali catatan siswa yang sakit. Dengan demikian,  siswa menunjukkan perilaku disiplin yang membudaya berdasarkan tata tertib sekolah/madrasah dan mendapat pengakuan atas prestasi kedisiplinan.

Berdasarkan kesimpulan di atas, asesor akan memberikan penilaian untuk butir 1 memperoleh level 4. Penilaian yang diberikan tentu saja harus sesuai dengan kondisi sekolah yang sebenarnya. Apabila sekolah memperoleh akreditasi “Unggul”, berarti benar-benar sekolah itu bermutu dengan syarat asesor yang melakukan visitasi dalam rangka akreditasi mengikuti prosedur yang sebenarnya.

Penutup

Berdasarkan uraian yang singkat ini, akreditasi sekolah dengan menggunakan IASP 2020 berbeda sekali dalam hal penggalian data dikarenakan yang dinilai adalah kinerja sekolah bukan administrasi sekolah semata. Asesor harus memahami teknik triangulasi dan terampil melakukan analisis yang menghasilkan kesimpulan yang sesuai keadaan sekolah untuk memperoleh akreditasi yang bermutu.. Wajar apabia BAN SM melakukan seleksi ketat dalam perekrutan asesor baru dan melakukan uji kompetensi asesor lama. Semoa bermanfaat

Tinggalkan Balasan